Ketika Putri dan Calon Menantu Raja Jogja Dapat Gelar Baru

utama KAKI..oke..20130812204121-20130812_Guntur Aga_Calon Pengantin Keraton Jogja (1)Abra Ziarah, Angger Lakoni Upacara Kekancingan

Keraton Jogjakarta bakal punya gawe besar. Yakni, pernikahan Gusti Raden Ajeng (GRAj) Nurabra Juwita,putri nomor empat Sultan Hamengku Buwono (HB) X, dengan Angger Pribadi Wibowo pada 22 Oktober mendatang. Sebelum menjadi pengantin, keduanya mendapatkan gelar baru.


Gelar anyar Nurabra adalah Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hayu. Sedangkan Angger mendapatkan gelar Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Notonegoro. Sebagai calon anggota keluarga keraton, Angger harus melewati serangkan acara sebelum menyandang gelar baru tersebut.
Alumnus SMA 3 Jogjakarta itu melakoni upacara penyerahan kekancingan atau surat keputusan (SK) di Bangsal Kasatriyan Kompleks Keraton Jogja.
“Tadi (kemarin pagi, Red) kekancingan sudah diserahkan lewat upacara pergantian nama ini,” ujar Penghageng II Tepas Dwirapura Keraton Jogja KRT di Keraton Kilen kemarin (12/8).
Kekancingan yang diterima Angger berupa surat berbahasa Jawa yang diteken Lurah Pangeran Keraton Jogja KGPH Hadiwinoto. Selain menerima kekancingan, pria yang bekerja sebagai manajer khusus di Badan Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang berkedudukan di New York, Amerika Serikat (AS), itu juga mendapatkan sebilah keris.
Upacara pengukuhan Angger dihadiri orang tuanya dan sejumlah kerabat keraton. Salah satunya adalah menantu HB X, KPH Purbodiningrat, yang berjalan mendampingi Angger keluar dari Bangsal Kasatriyan.
Mereka memakai busana pranakan yang dikenakan abdi dalem saat bertugas di keraton. Pergantian nama menjadi kewajiban di lingkungan keraton. Sebab, Angger akan memasuki fase kehidupan baru yang memikul tanggung jawab yang lebih tinggi.
Nama GKR Hayu dan KPH Notonegoro itu bukan hanya mengandung makna simbolis. Namun juga memiliki filosofi dan doa bagi yang menyandangnya. “Untuk orang Jawa, nama itu penting. Karena ada filosofi di dalamnya,” tutur GBPH Prabukusumo, adik HB X.
Menurut Romo Tirun, sapaan akrab Prabukusumo, pemilihan dua nama itu melalui proses panjang. Bahkan harus memerlukan rapat hingga empat kali. Sebelum nama itu disematkan, harus ada kemantapan hati dari calon penerima.
Nama-nama bagi kerabat keraton sudah tersusun dalam Serat Rajaputra. Dalam serat tersebut ada ratusan nama. “Sudah ada pembagiannya, yang putra dalem itu namanya yang mana. Yang calon mantu itu namanya yang mana saja,” terang mantan Sekda Sleman itu.
Hayu berarti yang berparas ayu, indah, dan selamat. Abra,sapaan Nurabra, adalah keturunan keempat yang menggunakan nama tersebut. Sebelumnya, nama GKR Hayu pernah dipakai putri HB II, HB VI, dan putri HB VII.
Sedangkan KPH Notonegoro diambilkan dari nama salah satu nama anggota tim Radyopati atau asisten gubernur di awal-awal HB IX menjadi kepala daerah pada 1946. Notonegoro juga tercatat menjadi Guru Besar Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah meminta Presiden Soekarno kembali pada UU 1945 saat demokrasi terpimpin diterapkan di Indonesia. “Notonegoro salah satu orang yang mendesak lahirnya Dekrit Presiden 1 Juli 1959,” terang Romo Tirun.
Dia berpesan agar Abra dan Angger berziarah ke makam para pendahulu yang telah lebih dulu menggunakan nama-nama tersebut. “Kalau GKR Hayu, saya sudah ziarah ke Imogiri dan Kotagede. Kalau Notonegoro belum, karena baru tahu kalau makamnya di Pakuncen. Mungkin nanti saya ke sana sendiri karena Mas Angger sudah harus balik ke New York,” ujar Abra.
Dia senang mendapatkan gelar GKR Hayu tersebut. Harapannya, nama itu memberikan semangat berjuang sebagaimana dimiliki pahlawan emansipasi wanita Indonesia, RA Kartini.
Setelah berdiskusi beberapa kali, ia mengaku mantap dengan pilihan nama tersebut. “Beratnya kalau ada yang ngomong jengenge (namanya) GKR Hayu, kok uwonge ra ayu (orangnya nggak cantik),” kelakar alumnus Bournemouth University Inggris itu.
Sementara itu, Angger menganggap nama tersebut sebagai sebuah doa dan harapan. Dia berharap bisa menyandang nama yang berarti menata negara itu dengan baik. “Mudah-mudahan jadi doa,” katanya. (hed/kus/jpnn/ca)

1,256 total views, 1 views today

Posted by on 13 August 2013. Filed under Features. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

You must be logged in to post a comment Login