|
ADIPALA - Jembatan Desa Karangsari, Kecamatan Adipala yang menjadi sarana vital ambruk pekan kemarin. Jembatan tersebut menjadi jalur penghubung dengan pasar dan desa lainnya di Adipala. “Jembatan ini dibangun tahun 70-an dan sudah beberapa kali mengalami perbaikan ringan. Mungkin karena usinya sudah terlalu tua, sehingga jembatan ambruk dan jalan desa terputus,” kata Kades Karangsari Wagiyo Cokro Pranoto. Agar lalu lintas berjalan normal, dibuat jembatan darurat dari pohon kelapa yang diatasnya dibuat anyaman bambu agar dapat dilewati. Menurut Cokro, jembatan yang ambruk menjadi jalan alternatif untuk keluar desa, selain jalan utama menuju ke areal pertanian di Kecamatan Adipala dan Maos. “Jembatan memang berada di dekat perbatasan dengan Kecamatan Maos, sehingga banyak warga yang memilih lewat jembatan daripada harus memutar,” kata dia. Cokro menuturkan, mendapat desakan dari warga agar jembatan segera diperbaiki. Namun karena desa tidak punya dana yang cukup, terpaksa dibuat jembatan darurat. “Kami masih bingung, karena tahun ini APBDes juga sudah diplot untuk kebutuhan sarana lainnya. Akhirnya meski jembatan sangat vital, namun karena desa tidak punya dana maka dibuat darurat,” paparnya. Dikatakan Cokro, desa akan berupaya agar jembatan dapat dibangun kembali dengan dana APBD Kabupaten. Pasalnya, biayanya untuk perbaikan jembatan diperkirakan diatas Rp 25 juta. "Biayanya cukup besar dan sangat berat bagi desa untuk membiayai, meskipun diambilkan dari dana ADD atau kas desa. Upaya yang paling mungkin minta bantuan ke kabupaten agar pada tahun anggaran berikutnya bisa dibangun kembali,” tuturnya. Suradi, salah seorang warga mengaku, sejak jembatan ambruk, banyak hasil pertanian yang tidak bisa diangkut menggunakan kendaran roda empat. Hasil pertanian terpaksa diangkut dengan sepeda, padahal jarak antara areal pertanian dan rumah pemilik atau jalan uatama cukup jauh. “Kami sangat membutuhkan jembatan,sebab itu satu-satunya jalan menuju ke areal persawahan di tengah desa,” kata dia. (yan)
|